Folklore Festival 2018 – Atraksi Budaya Daerah dan Mancanegara Tersaji di Desa Wisata Kandri

SEMARANG – Folklore Festival 2018 di Desa Wisata Kandri, Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah, 15-16 Desember,  berlangsung meriah.  Berbagai atraksi budaya lokal, luar daerah, dan mancanegara tersaji pada event yang digelar Pemerintah Kota Semarang bekerja sama dengan Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN).

Berbagai seni dan budaya rakyat tampil memesona di ajang Folklore Festival 2018 di Desa Kandri, Gunungpati, Jawa Tengah, kemarin. IST

Folklore Festival 2018 sendiri diikuti 17 daerah di Indonesia dan 3 negara asing. Di antaranya: Gayo (Aceh), Sumba (NTT), Bima (NTB), Lampung, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Maluku Utara, Sulawesi Selatan, Riau, Bireun (Aceh), Manado (Suluwesi Utara), Jambi, Kepulauan Riau, Jepara, dan Banyumas (Jawa Tengah). Sementara tiga negara luar yang ikut ambil bagian adalah Malaysia, China, dan Korea Selatan.  Mereka tampil di Mini Stage dan Panggung Utama di Area Dermaga Waduk Jatibarang.

Seni dan budaya yang tersaji di ajang itu di antaranya Tari Ronggeng Warak dari Semarang, Tari Katoga dari Sumba Timur, Wayang Orang Bharata, Tari Mapadendam dari Sulawesi Selatan, tari Bedana asal Lampung, tari Joko Tarub dari Sumatera Utara, tarian Banyumasan, dan tari Tito Samudra dari Jepara. Belum lagi Legenda Gua Kreo tersaji dengan luar biasa.

Begitu juga tari Tangan 1000 dari China dan sajian seni Korea Selatan begitu memukau. Bahkan, pertunjukkan musik Haiko asal Jepang yang dibawakan pemuda pemudi Indonesia juga mampu menghipnotis penonton yang memadati festival, Minggu (16/12). Apalagi, pelatih mereka memang salah satu seniman asal Jepang.

Selain acara budaya itu, Folklore Festival 2018 di Kandri juga diisi dengan sejumlah workshop yang menarik. Di antaranya pelatihan membatik bagi peserta, workshop seni dari masing-masing kontestan, dolanan bocah, dan musik tradisional. Termasuk juga kegiatan jelajah desa wisata Kandri.

“Alhamdulillah. (Kesuksesan) ini berkat dukungan dan arahan dari KSBN dan banyak pihak,” ujar Panitia Pelaksana Lilies  Yaniarti, Minggu (16/12).

Hal sama disampaikan Ketua Umum KSBN Hendardji Soepandji. Dia menyatakan bahwa perhelatan Folklore Festival 2018 di Desa Kandri berlangsung sukses dan sangat meriah. Sebab, berbagai atraksi budaya  daerah bisa tampil di ajang itu. “Folklore Festival di Kandri berlangsung meraih walaupun masih perlu beberapa perbaikan karena memang di Semarang baru pertama kali,” ujar Hendardji di Semarang, kemarin.

Yang jelas, Folklore Festival 2018 di Kandri digelar sebagai upaya melestarikan seni budaya lokal sebagai sumber kekayaan budaya daerah. Apalagi, pelestarian budaya memang sudah dijamin oleh pemerintah lewat UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.  Khusus event di Kandri, tentunya kegiatan ini dimaksudkan untuk mewujudkan Desa Wisata sebagai daerah tujuan utama wisatawan domestik dan manca negara. Apalagi, event itu mengangkat nilai-nilai kearifan lokal masyarakat melalui

potensi seni budaya tradisional. Yang menarik, Folklore Festival 2018 juga merupakan uji coba pelaksanaan Folklore International Festival yang akan digelar di tempat sama tahun depan. “Hanya formatnya mungkin berbeda. Dan, kami akan membicarakan masalah format itu terlebih dahulu dengan Pak Wali Kota Semarang,” kata Hendardji.(one)

Related posts